Pengaruh Proses Pengindraan Terhadap Daya Ingat dari Komponen Multimedia Pembelajaran Terhadap Anak Sekolah Dasar
Penulis : Anisa Sri Rani
Tahun Penulisan : 2020
ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui berapa banyak pengaruh daya ingat yang didapatkan oleh seorang anak sekolah pendidikan dasar yang menggunakan multimedia sebagai alat penyampaian materi di sekolah. Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada pembaca agar paham dan mengetahui bagaimana daya ingat seorang anak memiliki dua karakteristik. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menggunakan artikel dan jurnal tepercaya sebagai sumber informasinya. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa seorang anak memiliki kapasitas dalam mengingat setiap materi yang didapatkan di pendidikan formalnya dan juga sebagian anak dapat mengingat beberapa materi yang disampaikan pengajar sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh kapasitas memori terhadap anak sekolah dasar serta banyaknya materi yang disampaikan juga sangat mempengaruhi setiap daya ingat anak, banyaknya panca indra yang digunakan juga memberikan dukungan kepada anak untuk membantu proses belajar. Sehingga anak sekolah dasar memiliki ingatan jangka panjang dan ingatan jangka pendek sesuai dengan kapasitas memori yang dimiliki oleh anak tersebut.
PENDAHULUAN
Pendidikan di Indonesia merupakan aspek yang amat penting dalam membangun sumber daya manusia sebagai mesin kegiatan produksi pada sebuah organisasi atau perusahaan. Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai peran penting sebagai pembentuk suatu negara. Negara yang baik adalah negara yang memiliki sumber daya manusia yang bermutu dan bernilai. Manusia yang lahir ke dunia lewat rahim seorang ibu nantinya akan menjadi pendorong majunya suatu negara khusunya Indonesia. Mulai dari bayi hingga ajal menjemput manusia selalu memiliki perannya masin-masing begitu juga dalam menghadapi aktivitas sehari-hari.
Untuk menjadi seorang manusia yang bermutu dan bernilai, manusia perlu dididik dan diberikan pemahaman-pemahaman tentang materi dalam sehari-hari mulai dari bagaimana cara bersikap sopan santun, bertutur kata yang baik, belajar menjumlahkan setiap angka dan lain sebagainya. Pendidikan di Indonesia sendiri merupakan hal yang sudah diatur dalam Undang-Undang tepatnya nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan di Indonesia juga terbagi ke dalam tiga jalur yaitu formal, informal dan nonformal.
Pendidikan formal adalah pendidikan di sekolah yang disusun secara teratur dan sistematis oleh pemerintah. Pendidikan formal ini memiliki tingkat dan ada jenjang di dalamnya sesuai dengan umur dari peserta didik. Untuk membantu tersampainya informasi pendidikan membutuhkan tenaga pendidik, selain itu diperlukan juga media sebagai aplikasi penyampaian meteri seperti buku paket dan LKS. Setelah anak keluar dari pendidikannya di PAUD atau Taman Kanak-Kanak mereka akan memasuki dunia baru lagi yaitu sekolah dasar. Berbeda dengan PAUD atau TK, sekolah dasar lebih memberikan aturan formal di dalamya serta lebih menggunakan buku paket atau lembar latihan sebagai media belajar siswa.
Berbicara tentang penggunaan buku sebagai media belajar, di zaman yang semakin berkembang dengan teknologi ini menjadikan buku sebagai media yang penting dan mendukung untuk menyimpan berbagai informasi. Tidak dipungkiri lagi banyaknya informasi yang disimpan oleh buku membuat buku menjadi barang yang memiliki jumlah halaman yang sangat tebal. Itu membuat sebagian siswa mengeluhkan atas banyaknya materi yang harus disampaikan. Terkhusus lagi kepada peserta didik di jenjang sekolah dasar yang masih di waktunya bermain-main mereka selalu mengeluhkan tentang tebalnya buku pelajaran.
Pengaruh yang diberikan ini menjadi salah satu yang perlu diperhatikan bagaimana sikap sang anak terhadap apa yang dia pelajari. Selain itu juga penggunaan panca indra manusia sangat mempengaruhi proses daya ingat anak. Tidak banyak anak-anak yang sudah lupa dengan materi yang lalu karena banyak materi yang sampaikan oleh pendidik atau buku.
Buku pelajaran sendiri memiliki peran penting yang berupa hasil dari seorang pengarang atau sebuah team yang menyusun sebuah buku cetak berdasarkan kurikulum yang disetui oleh pemerintah negara Indonesia (Anisah & Azizah, 2016).
Menurut (Bustomi, 2010) bahwa kurangnya alat peraga dalam penyampaian materi di sekolah membuat peserta didik kurang berkonsetrasi. Di zaman yang serba canggih ini harus digunakan dengan sebaik mungkin dengan mengandalkan teknologi ini, seperti penggunaan multimedia di dalam dunia pendidikan sekarang ini. Teknologi yang tehubung ke informasi selalu menyajikan kecepatan dalam pengolahan informasi yang menjadi salah satu faktor perkembangan (Zuhrah, 2011).
Sehingga yang menjadi sebuah tanda tanya adalah bagaimana cara seorang tenaga pendidik bisa mengubah cara yang efektif dalam proses pengajaran di sekolah dengan melibatkan panca indra dan daya ingat seorang anak.
Dengan diadakannya penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar panca indra dan besarnya memori seorang anak sekolah dasar dapat berkolaborasi dengan baik dalam proses menerima dan memproses banyaknya materi belajar di jenjang sekolah dasar. Sehingga nantinya para calon pendidik dapat mempertimbangkan segala bentuk pengajaran yang dapat meningkatkan potensi belajar para peserta didik di sekolahnya. Selain itu manfaat dari penelitian ini dapat menjadi pendorong bagi kita semua untuk mengetahui berapa pentingnya pendidikan dalam memperhatikan proses mengajar dari pengajar.
METODE PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan dalam proses pengumpulan data ini menggunakan metode kualitatif atau mengumpulkan berbagai informasi melalui sumber dari buku, artikel, dan jurnal.
Menurut (Somantri, 2005) bahwa metode kualitatif dapat mengukur setiap fakta yang objektif melalui konsep yang diturunkan melalui variabel-variabel lalu dijabarkan pada indikator dan memperhatikan aspek reliabilitas. Penelitian berdasarkan kualitatif bersifat bebas dari segi nilai dan konteks, sehingga dapat ditampilkan dalam bentuk data.
Menurut Jacob dari buku Metode Penelitian Kualitatif karya (Raco, 2010) , bahwa penelitian kualitatif memiliki enam jenis kajian yaitu :
1. Ethologi Manusia (Human Ethologi)
2. Etnografi Holistik (Holistic Etnography)
3. Antropologi Kognitif (Cognitive Antropology)
4. Etnography Komunikasi (Ethnography Communication)
5. Interaksi Simbolik (Simbolic Interaction)
6. Psikologi Lingkungan (Ecology Psychologi)
Metode kualitatif ini memiliki minat yang semakin meningkat, disebabkan karena metode ini dapat memperoleh banyak pelajaran dan pengalaman di setiap proses dalam pemerolehan informasi untuk penelitian. Metode ini harus terencana karena memperhatikan waktu dalam mencari berbagai sumber dan referensi terhadap ketepatan informasi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Terdapat teori-teori terbaru tentang bagaimana informasi itu diproses, informasi itu harus diproses dalam kerja otak yang melibatkan memori. Setiap teks yang dilihat oleh anak sekolah dasar merupakan hal yang sangat lumrah terjadi di sekitar kita. Tetapi berapa banyakkah yang dapat diterima oleh memori si anak tersebut dalam menyimpan sebuah ingatan.
Dalam praktiknya anak akan merasa bahwa dirinya tidak akan mampu untuk menghafal setiap teks yang ada di dalam buku pelajarannya. Sedangkan anak sekolah dasar masih membutuhkan ruang dalam menjelajahi dunia baru. Mereka lalu ditekankan untuk bisa membaca dan juga mengerjakan tugas rumah. Berdasarkan hasil data lapangan, beberapa anak SD dibebani dengan jumlah tugas yang sama dengan tugas anak SMP. Hal terssebut merupakan hal mendidik sekaligus menekan anak tersebut sehingga mereka seringkali mengabaikan setiap tugas-tugasnya. Selain itu anak SD ini pula selalu menunda-nunda pekerjaan rumah dikarenakan tidak memahami dan tidak bisa mengerjakan tugas tersebut. Dalam praktiknya anak SD tersebut meminta bantuan kepada orang tuanya, atua bahkan meminta bantuan ke tetangga yang sudah SMP atau SMA.
Menurut penelitian bahwa pola mengatur emosi antara anak sekolah dasar dengan anak sekolah menengah pertama maupun atas itu berbeda. Untuk anak sekolah dasar banyak waktu yang dihabiskan bersama satu guru memiliki banyak kesempatan di dalamnya, sedangkan untuk anak sekolah menengah yang setiap pelajaran berbeda guru membuat kesempatan bersama memiliki kesempatan yang kecil (Santrock, 2011). Latar belakang ini lah yang membuat seorang guru harus memiliki berbagai cara agar murid tidak bosan dalam proses pelajaran.
Keterampilan yang dimiliki oleh seorang guru pada dasarnya adalah bagaimana guru tersebut bisa menciptakan berbagai macam metode atau praktik yang baru dan bisa mengaplikasikannya di kelas (Kusumawati & Maruti, 2019). Pedagogi dalam kelas anak sekolah dasar sangat dibutuhkan untuk memancing kreatifitas guru sebagai pengajar (teacher as instructor). Menurut Adam dan Dickly (Hamalik, 2005) peran yang dimiliki oleh seorang guru sangatlah luas, meliputi:
a. Guru sebagai pengajar (teacher as instructor)
b. Guru sebagai pembimbing (teacher as counselor)
c. Guru sebagai ilmuwan (teacher as scientist)
d. Guru sebagai pribadi (teacher as person)
Untuk membuat sebuah metode belajar baru yang bisa memberikan kesan baru terhadap metode pembelajaran anak sekolah dasar maka penggunaan multimedia sebagai alat utama pengajaran adalah salah satu jalan keluarnya.
McCormick dalam (Pranata, 2004) mendefinisikan multimedia itu berupa campuran atau gabungan dari tidak elemen desain pesan yaitu suara, gambar dan teks. Lalu, Rosch mengatakan bahwa multimedia adalah kombinasi dari video dan komputer.
Multimedia ini akan memberikan pengaruh yang berbeda kepada para penggunaanya. Karena multimedia menggabungkan beberapa elemen seperti teks, gambar, video, audio, grafik, dan interaktif. Itu yang membuat semua panca indra dari anak sekolah dasar dipakai secara bersama-sama.
Karena menurut Rusman bahwa pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu panca indra memberikan efek yang sangat berbeda bila hanya menggunakan satu panca indra saja, karena pelajaran yang diterima akan disimpan lebih lama dalam otak (Rusman, 2011).
Dalam praktiknya, taktik yang digunakan oleh seorang guru harus bisa membuat daya tarik murid menjadi lebih besar. Untuk menggunakam multimedia bisa dijadikan media utama atau media pelengkap dalam proses mentransfer ilmu. Karena penggunaan buku juga tidak bisa dihilangkan dalam dunia pendidikan, khususnya sekolah dasar.
PEMROSESAN INFORMASI
Panca indra seperti mata dan telinga merupakan tempat pertama kali informasi masuk ke dalam otak manusia dalam proses belajar. Mata akan melihat berbagai macam warna, bentuk, tekstur suatu informasi. Dan telinga akan menerima informasi berupa suara dari benda yang bergesekan. Setelah informasi tersebut diterima oleh mata dan telinga kita maka otak akan mengolah informasi tersebut menjadi sebuah pengetahunan.
Pengetahuan ini yang nantinya akan disimpan dalam memori. Dalam kasus ini, mengapa ada sebagian anak sekolah dasar yang bisa lupa dengan informasi yang diterimanya tapi ada pula yang masih mengingat informasi yang sudah lampau. Skema proses informasi ini disajikan melalui ilustrasi berikut.
Pola di atas menunjukkan bahwa pengetahuan berasal dari apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar. Selanjutnya, informasi yang ditangkap itu akan diproses, dinilai, dan ditransfer ke memori otak manusia. Dalam konteks pesan yang didapat dari multimedia akan 7 berhasil disimpan itu tergantung bagaimana seseorang memaknai informasi tersebut. Desain yang dibentuk dalam multimedia akan lebih bermakna dibandingkan hanya sekedar teks saja. Informasi yang disampaikan dalam multimedia akan lebih memberikan stimulus kepada reseptornya.
Dalam penyampaian informasi dikenal beberapa hal yaitu media pengantar, desain pesan dan kemampuan sensorik. (Pranata M. , 2004) Media pengantar merupakan alat yang digunakan seorang untuk menyampaikan informasi kepada penerima informasi.
Media pengantar ini bisa dibagi menjadi dua yaitu media pengantar cetak dan media pengantar komputer. Desain pesan mengarah kepada bentuk dari informasi yang diberikan seperti apakah informasi tersebut berbentuk teks, video, audio atau gambar. Kemudian kemampuan sensorik mengacu kepada arah pemrosesan informasi tersebut melalui visual atau audio. Sebagai contoh dari kerja ketiga hal tersebut adalah terdapat seseorang yang mendapatkan informasi yang berjudul Proses Pembuatan Film melalui aplikasi Youtube. Maka orang tersebut memperoleh informasi melalui media komputer, dengan desain pesan video dan audio, dan kemampuan sensorik yaitu visual dan audio (dua sensorik yang berbeda).
Dari ketiga komponen tersebut informasi masuk. Setelah informasi masuk ke dalam otak manusia. Dalam tahapannya informasi yang masuk ke dalam otak manusia akan menimbulkan respon. Seperti dalam bagan berikut
TAHAPAN MEMORI DAN EFEK RUDUDANSI


Komentar
Posting Komentar